Posted by: odymesakh | October 8, 2009

Nelayan Tradisional Lasiana Kian Tersisih

* Perlu Zonasi Penangkapan Ikan di Perairan Teluk  Sulamu

Bagan tancap di perairan Kelurahan Lasiana, Kota Kupang, NTT.

Bagan tancap terlihat di kejauhan dalam perairan Kelurahan Lasiana, Kota Kupang, NTT.

BEBERAPA tahun belakangan ini para nelayan tradisional di pesisir Kelurahan Lasiana, Kota Kupang, semakin tersisih. Penghasilan mereka dari tahun ke tahun terus merosot akibat makin sedikitnya hasil tangkapan. Sebagai warga asli Kelurahan Lasiana dan hampir setiap hari berinteraksi dengan mereka, tentu saya mengetahui persis apa yang mereka alami sehari-hari.

Saat ini, jika beruntung, para nelayan yang mengandalkan alat tangkap bagan tancap, paling banyak bisa menangkap ikan teri sebanyak satu ember ukuran 30 kilogram basah. Itu pun tidak setiap hari. Hasil tangkapan segitu paling-paling dihargai Rp 50 ribu oleh papalele di pasar ikan Oesapa. Penghasilan segitu sama sekali tidak sebanding dengan pengeluaran para nelayan.

Rata-rata seorang nelayan mengeluarkan biaya minimal Rp 50 ribu sekali melaut. Ongkos itu untuk membeli minyak tanah, bensin, dan rokok. Bila ditambah biaya tenaga kerja semalam suntuk, jelas pendapatan Rp 50 ribu (yang belum tentu diperoleh setiap hari), tidak menutupi biaya produksi. Seringkali mereka bahkan “pulang kosong” alias tidak mendapatkan apa-apa.

Menurut saya, sedikitnya hasil tangkapan para nelayan lantaran tidak mampu bersaing nelayan yang lebih maju dengan alat tangkap lebih modern, yakni bagan apung dan pukat lampara (pukat tarik). Nelayan yang menggunakan bagan apung dan pukat lampara beroperasi persis di mulut Teluk Sulamu yang merupakan pintu masuk ikan ke daerah

Bagan apung

Bagan apung

tangkapan nelayan bagan tancap.

Mereka bahkan beroperasi hingga hanya berjarak beberapa meter dari bagan tancap dan menyapu nyaris semua jenis dan ukuran ikan yang berada di area tersebut.  Jadi, sebelum ikan- ikan masuk ke Teluk Sulamu, sudah terlebih dahulu terjaring pukat lampara dan bagan apung. Hanya sisa- sisa ikan yang lolos yang menjadi “jatah” para nelayan tradisonal. Dengan begitu, hanya keberuntungan luar biasa saja yang membuat seorang nelayan bagan tancap bisa memperoleh tangkapan lebih banyak.

Saran saya, sebaiknya para wakil rakyat dan pemerintah mengatur zonasi penangkapan ikan antara nelayan tradisional dengan nelayan yang lebih modern, seperti bagan apung dan lampara. Kedua alat tangkap tersebut harus diatur agar tidak beroperasi di sekitar mulut Teluk Sulamu.

Persoalan ini tidak bisa dianggap remeh, jika kita tidak ingin para nelayan tradisional di pesisir Pantai Lasiana dan Pesisir Kelurahan Oesapa semakin terpuruk dan terperangkap kemiskinan berkepanjangan.  Sembari menunggu peraturan mengenai zonasi penangkapan, kami berharap agar Dinas Perikanan Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memulai dengan pengaturan dan pemantauan.

Perahu nelayan teronggok di tepi Pantai Lasiana, Kota Kupang.

Perahu nelayan teronggok di tepi Pantai Lasiana, Kota Kupang.

Setahu saya, beberapa waktu lalu Dinas Perikanan Provinsi NTT telah dilengkapi dengan kapal patroli. Alangkah bagusnya apabila kapal-kapal patroli itu dioperasikan untuk mengatur zonasi penangkapan ikan. Mereka sebaiknya mengarahkan nelayan pukat lampara dan nelayan bagan apung untuk tidak beroperasi di sekitar mulut Teluk Sulamu.

Marilah kita lebih peduli terhadap nasib para nelayan kita. Sungguh kasihan, karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka sudah susah payah. Lantas kapan mereka bisa menjadi masyarakat sejahtera? (*)


Posted by: odymesakh | September 25, 2009

Wajah Kota Kupang

Kota Kupang1 Inilah wajah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilihat dari udara. Sudah mulai padat dan tampaknya kurang tertata dengan baik…

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.